Pendidikan dilembaga ini dapat diikutisiapa saja.
24 Jun 2011
Oleh Damanhuri Zuhri
Haji Soegeng Santoso, SH, MH, (68), tak pernah menyangka bila ia tampil sebagai penceramah di banyak tempat. Padahal, ketika beribadah haji bersama sang istri pada 1989 atau pada usia 46 tahun, ia belum menjalankan shalat secara rutin. Kala itu, lelaki yang dikenal sebagai notaris ini pergi ke Tanah Suci bermodal nekat.
Ia belum banyak mengerti tentang kewajiban agama. Tapi, lambat laun ia berubah. Ia bersyukur dan merasa beruntung bisa masuk komunitas kader Pendidikan Mu-balligh Al-Azhar (PMA). "Sehingga secara bertahap saya bisa memperdalam wawasan agama Islam," kata Soegeng di Jakarta, Rabu (22/6).
Ia teringat pertama kali men-daftar sebagai peserta PMA. Ia ditanya salah seorang pengurus bisa atau tidak baca Alquran. Mereka yang tak mampu membaca Alquran tidak bisa masuk. Tapi, ia bersikeras. "Masak ada yang ingin belajar kok dilarang?" Akhirnya Soegeng diterima di PMA angkatan ke-27.
Menurut dia, di sana ia menambah ilmu tentang Islam sekalian belajar ceramah. Ia belajar dari dosen-dosen yang pakar di bidangnya. Sebut saja, misalnya, Dr Lutfi Fathullah MA, pakar hadis dan direktur Pusat Kajian Hadis Jakarta. Ilmu diperoleh juga dari DR Aminullah MA, KH Wahfiudin, dan KH Dr Hamdan Rasyid.
Dr H Shabahussurur MA menjadi salah satu dosen di sana. Selain itu, ada Ustaz H Sunandar Ibnu Nur MA yang ahli di bidang pidato. Dari sini, ujar Soegeng, Ustaz Sunandar sering mengajaknya menjadi pengisi acara Hikmah Pagi TVRI atau berceramah di beberapa tempat dalam rangka peringatan hari besar Islam.
Hal yang lebih membahagiakan dirinya, papar Soegeng, berkat hidayah Allah SWT ia kini tak hanya mampu mengamalkan ajaran Ustaz Muhammad Arifin Ilham, pimpinan Majelis Zikir Az Zikra, yang sering disampaikan Ustaz Sunandar selama belajar di PMA, yaitu istighiar, tak pernah putus wudhu, membaca dan memahami Alquran.
Ajaran lainnya adalah sedekah setiap hari, shalat tahajud setiap malam, dan shalat dhuha. "Al-
Pendidikan Muballigh Al-Azhar (PMA)
Menempa Calon Mubalighamdulillah, saya pun sering diundang ceramah ke berbagai daerah di Indonesia," katanya. Ia mengatakan, niatnya adalah mengamalkan ilmu yang diperoleh walaupun sedikit agar ada manfaat bagi umat dan berharap husnul khatimah.
Ia mengungkapkan, kalau diminta ceramah, ia niatkan semata-mata untuk ibadah. Ia tak berharap atau menerima angpau. Sebaliknya, ia malah senang berdakwah sambil beramal.
Ketua Umum Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Dr Shabahussurur, mengatakan PMA didirikan pada 28 Oktober 1977 oleh Buya Hamka.
Ada tiga tingkat pendidikan PMA, yaitu tingkat dasar, tingkat lanjutan, dan tingkat kajian khusus. Lama pendidikan masing-masing tingkatan dua semester. Materi yang diajarkan adalah ilmu-ilmu keislaman, seperti akidah, tafsir, hadis, fikih, ushul fikih, akhlak, bahasa Arab, ilmu dakwah, metode dakwah dan psikologi dakwah, serta retorika.
Peserta pendidikan diajari pidato dan berceramah dengan praktik langsung ke masyarakat. Selama ini, ada 14 dosen yang aktif mengajar di PMA. Jumlah peserta setiap angka tarinya lebih dari 100 orang. Program ini dapat diikuti siapa saja, tidak pandang berapa usianya.
Mereka yang berminat mendalami ilmu agama, meneruskan risalah Islam, serta ingin mewujudkan rahmah (kasih sayang) bagi masyarakat, bisa mendaftar sebagai peserta PMA. Kini, lulusannya lebih dari 3.500 orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Lulusan PMA diproyek-sikan sebagai penggerak dakwah.
Mereka dapat melakukannya melalui masjid, yayasan, lembaga Islam, bahkan dalam berbagai kesempatan menyampaikan pesan Islam di mana saja, di rumah, perkantoran, pasar, dan masyarakat secara luas. "Kami mendidik mereka menjadi dai dan mubalig bagi dirinya, keluarga, dan masyarakat," kata Shabahussurur.
Wisuda peserta didik di PMA berlangsung setiap tahun. Tahun ini, rencananya berlangsung pada 25 Juni 2011 di Aula Buya Hamka, Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan.
Ustaz Sunandar Ibnu Nur MA yang memberi materi public speaking, retorika, dan praktik pidato mengaku awalnya direkrut sebagai pengajar PMA menggantikan dosen materi itu yang meninggal dunia. Didi Yuda Prawira. Masyarakat, kata dia, mengenal almarhum sebagai penyiar seniordi TVRI.
Tugas ini, jelas dia, tidak mudah apalagi menggantikan orang yang sudah senior dan profesional. Tapi, ia bersyukur pengalaman mengajar di kampus sejak 1990 dan mengisi acara dakwah di TPI, ANTV, RCTI, dan TVRI membuatnya percaya diri mengajarkan materi yang diamanatkan kepadanya.
Peserta PMA yang pernah dib-inanya adalah Astri Ivo, Pipit istri penceramah Ustaz Jefry al-Buchori (Uje), dan Soegeng Santosa yang tergabung dalam angkatan 27 hingga kini sudah angkatan 34. Masih banyak lagi lainnya yang setelah selesai kuliah di PMA menjadi mubalig dan muba-lighah di masyarakat.
Ia mengatakan, PMA ini cukup fenomenal dan bertahan hingga 34 tahun lamanya tentu bukan perkara mudah. Ada begitu banyak lembaga pendidikan kadermubalig yang dulu eksis namun kini sudah terkikis oleh geliat laju zaman. Ia melihat ada beberapa faktor yang membuat PMA ini bisa tetap eksis.
Ia menuturkan, PMA berada di lokasi strategis, yaitu di lingkungan Masjid Agung dan Universitas Al-Azhar. Apalagi, pesertanya sebagian besar para karyawan, pengusaha, dan berbagai profesi yang bekerja dan tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Dosen yang mengajar adalah para profesional dan ahli di bidangnya.
Manajemen yang rapi dan sikap yang ramah, menopang keberlangsungan PMA. Ustaz Sunandar mengatakan, pengurus PMA memperlakukan peserta layaknya kawan, bahkan seperti keluarga. Lingkungan semacam ini membuat peserta betah dan mau bertahan sejak awal kuliah hingga diwisuda.
d ferry Wslhandl
Haji Soegeng Santoso, SH, MH, (68), tak pernah menyangka bila ia tampil sebagai penceramah di banyak tempat. Padahal, ketika beribadah haji bersama sang istri pada 1989 atau pada usia 46 tahun, ia belum menjalankan shalat secara rutin. Kala itu, lelaki yang dikenal sebagai notaris ini pergi ke Tanah Suci bermodal nekat.
Ia belum banyak mengerti tentang kewajiban agama. Tapi, lambat laun ia berubah. Ia bersyukur dan merasa beruntung bisa masuk komunitas kader Pendidikan Mu-balligh Al-Azhar (PMA). "Sehingga secara bertahap saya bisa memperdalam wawasan agama Islam," kata Soegeng di Jakarta, Rabu (22/6).
Ia teringat pertama kali men-daftar sebagai peserta PMA. Ia ditanya salah seorang pengurus bisa atau tidak baca Alquran. Mereka yang tak mampu membaca Alquran tidak bisa masuk. Tapi, ia bersikeras. "Masak ada yang ingin belajar kok dilarang?" Akhirnya Soegeng diterima di PMA angkatan ke-27.
Menurut dia, di sana ia menambah ilmu tentang Islam sekalian belajar ceramah. Ia belajar dari dosen-dosen yang pakar di bidangnya. Sebut saja, misalnya, Dr Lutfi Fathullah MA, pakar hadis dan direktur Pusat Kajian Hadis Jakarta. Ilmu diperoleh juga dari DR Aminullah MA, KH Wahfiudin, dan KH Dr Hamdan Rasyid.
Dr H Shabahussurur MA menjadi salah satu dosen di sana. Selain itu, ada Ustaz H Sunandar Ibnu Nur MA yang ahli di bidang pidato. Dari sini, ujar Soegeng, Ustaz Sunandar sering mengajaknya menjadi pengisi acara Hikmah Pagi TVRI atau berceramah di beberapa tempat dalam rangka peringatan hari besar Islam.
Hal yang lebih membahagiakan dirinya, papar Soegeng, berkat hidayah Allah SWT ia kini tak hanya mampu mengamalkan ajaran Ustaz Muhammad Arifin Ilham, pimpinan Majelis Zikir Az Zikra, yang sering disampaikan Ustaz Sunandar selama belajar di PMA, yaitu istighiar, tak pernah putus wudhu, membaca dan memahami Alquran.
Ajaran lainnya adalah sedekah setiap hari, shalat tahajud setiap malam, dan shalat dhuha. "Al-
Pendidikan Muballigh Al-Azhar (PMA)
Menempa Calon Mubalighamdulillah, saya pun sering diundang ceramah ke berbagai daerah di Indonesia," katanya. Ia mengatakan, niatnya adalah mengamalkan ilmu yang diperoleh walaupun sedikit agar ada manfaat bagi umat dan berharap husnul khatimah.
Ia mengungkapkan, kalau diminta ceramah, ia niatkan semata-mata untuk ibadah. Ia tak berharap atau menerima angpau. Sebaliknya, ia malah senang berdakwah sambil beramal.
Ketua Umum Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Dr Shabahussurur, mengatakan PMA didirikan pada 28 Oktober 1977 oleh Buya Hamka.
Ada tiga tingkat pendidikan PMA, yaitu tingkat dasar, tingkat lanjutan, dan tingkat kajian khusus. Lama pendidikan masing-masing tingkatan dua semester. Materi yang diajarkan adalah ilmu-ilmu keislaman, seperti akidah, tafsir, hadis, fikih, ushul fikih, akhlak, bahasa Arab, ilmu dakwah, metode dakwah dan psikologi dakwah, serta retorika.
Peserta pendidikan diajari pidato dan berceramah dengan praktik langsung ke masyarakat. Selama ini, ada 14 dosen yang aktif mengajar di PMA. Jumlah peserta setiap angka tarinya lebih dari 100 orang. Program ini dapat diikuti siapa saja, tidak pandang berapa usianya.
Mereka yang berminat mendalami ilmu agama, meneruskan risalah Islam, serta ingin mewujudkan rahmah (kasih sayang) bagi masyarakat, bisa mendaftar sebagai peserta PMA. Kini, lulusannya lebih dari 3.500 orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Lulusan PMA diproyek-sikan sebagai penggerak dakwah.
Mereka dapat melakukannya melalui masjid, yayasan, lembaga Islam, bahkan dalam berbagai kesempatan menyampaikan pesan Islam di mana saja, di rumah, perkantoran, pasar, dan masyarakat secara luas. "Kami mendidik mereka menjadi dai dan mubalig bagi dirinya, keluarga, dan masyarakat," kata Shabahussurur.
Wisuda peserta didik di PMA berlangsung setiap tahun. Tahun ini, rencananya berlangsung pada 25 Juni 2011 di Aula Buya Hamka, Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan.
Ustaz Sunandar Ibnu Nur MA yang memberi materi public speaking, retorika, dan praktik pidato mengaku awalnya direkrut sebagai pengajar PMA menggantikan dosen materi itu yang meninggal dunia. Didi Yuda Prawira. Masyarakat, kata dia, mengenal almarhum sebagai penyiar seniordi TVRI.
Tugas ini, jelas dia, tidak mudah apalagi menggantikan orang yang sudah senior dan profesional. Tapi, ia bersyukur pengalaman mengajar di kampus sejak 1990 dan mengisi acara dakwah di TPI, ANTV, RCTI, dan TVRI membuatnya percaya diri mengajarkan materi yang diamanatkan kepadanya.
Peserta PMA yang pernah dib-inanya adalah Astri Ivo, Pipit istri penceramah Ustaz Jefry al-Buchori (Uje), dan Soegeng Santosa yang tergabung dalam angkatan 27 hingga kini sudah angkatan 34. Masih banyak lagi lainnya yang setelah selesai kuliah di PMA menjadi mubalig dan muba-lighah di masyarakat.
Ia mengatakan, PMA ini cukup fenomenal dan bertahan hingga 34 tahun lamanya tentu bukan perkara mudah. Ada begitu banyak lembaga pendidikan kadermubalig yang dulu eksis namun kini sudah terkikis oleh geliat laju zaman. Ia melihat ada beberapa faktor yang membuat PMA ini bisa tetap eksis.
Ia menuturkan, PMA berada di lokasi strategis, yaitu di lingkungan Masjid Agung dan Universitas Al-Azhar. Apalagi, pesertanya sebagian besar para karyawan, pengusaha, dan berbagai profesi yang bekerja dan tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Dosen yang mengajar adalah para profesional dan ahli di bidangnya.
Manajemen yang rapi dan sikap yang ramah, menopang keberlangsungan PMA. Ustaz Sunandar mengatakan, pengurus PMA memperlakukan peserta layaknya kawan, bahkan seperti keluarga. Lingkungan semacam ini membuat peserta betah dan mau bertahan sejak awal kuliah hingga diwisuda.
d ferry Wslhandl
