Propinsi Bangka Belitung Mengundang Ikang Fawzi Marissa Haque, Ramadhan 2011

Propinsi Bangka Belitung Mengundang Ikang Fawzi Marissa Haque, Ramadhan 2011
Propinsi Bangka Belitung Mengundang Ikang Fawzi Marissa Haque, Ramadhan 2011

The Ujang Bangka Communications

Ilmu yang Bermanfaat Pak Ustad Sunandar & kak Marissa Haque

Ilmu yang Bermanfaat Pak Ustad Sunandar & kak Marissa Haque

Dr. Sundandar Ibnu Nur di Propinsi Bangka Belitung, ramadhan 2011

Dr. Sundandar Ibnu Nur di Propinsi Bangka Belitung, ramadhan 2011

Sabtu, 20 Agustus 2011

Kisah Kak Marissa Haque Ikang Fawzi yang Sabar di Politik Indonesia

Tribun Bangka
Sumber: http://cetak.bangkapos.com/tbangka/read/14322.html

Marissa Haque Hampir Urungkan Jadi Caleg

edisi: 14/Oct/2008 wib
Persda Network/Bian H
Marissa Haque
AKTRIS cantik mantan politikus PDI Perjuangan yang kini hijrah ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Marissa Haque, hampir saja mengurungkan niatnya untuk mau dicalonkan sebagai calon wakil rakyat dari partai berlambang Ka’bah ini. Namun, istri mantan rocker era 80-an Ikang Fauzi ini bisa bernafas lega, niatnya untuk mundur sebagai caleg tak kesampaian.
“Saya sudah bertemu dengan Ketua KPU dan pak Sekjen (Irgan Chairul M) sudah mengeluarkan surat yang isinya saya ditempatkan ditempatkan seperti yang sudah disepakati,”  ujar Marissa dalam perbincangan khusus dengan Persda Network, Senin (13/10).

Niat urung jadi caleg berawal dari perseteruan karena nama Marissa Haque digeser ke posisi dua di daerah pemilihan Jawa Barat I. Marissa mengaku merasa dizalimi dan tidak sesuai dengan kesepakatan semula.

“Saya merasa dizalimi karena berdasar keputusan lajnah, saya disepakati di urutan pertama. Tapi, kenapa kemudian ditempatkan di nomor dua? Untunglah, saya bisa bertemu dengan Ketua KPU (Hafiz Asyari) dan menyatakan, soal itu bisa diselesaikan dengan sarat harus ada surat dari partai. Dan kemungkinan PPP akan segera mengeluarkan surat itu. Pak Sekjen sudah menandatangani, tinggal ketua umum saja,” Marissa menjelaskan.

Sekjen DPP PPP Irgan Chairul Mahfiz saat dikonfirmasi membantah kabar yang menyatakan Marissa Haque berniat mundur sebagai calon legislatif dari PPP.  Menurutnya, tidak ada yang harus dipermasalahkan soal penetapan nomor urut terhadap Marissa Haque yang dijagokan bisa mendulang suara di daerah pemilihan Jawa Barat. “Saya tidak yakin kalau Marissa akan berniat mundur. Karena semuanya sudah diselesaikan dengan baik,” aku Irgan.

Khusus untuk daerah pemilihan Jawa Barat, PPP dan PKB ternyata sedang berseteru memperebutkan calon angota legislatif. Yang diperebutkan tak lain Asep Ahmad Mausul Affandy. Baik PPP dan PKB sama-sama mengaku mengusung Asep Mausul.

Wakil Sekjen DPP PKB, Hanif Dakhiri menyatakan, yang bersangkutan adalah calon wakil rakyat dari partainya.

Hanif beralasan, Asep sudah lebih dulu mundur dari PPP kemudian maju melalui PKB.  Sementara PPP, melalui Ketua Fraksinya, Lukman Hakim Syarifuddin juga tak mau kalah, Asep juga calon anggota legislatif dari PPP. (Persda Network/yat)

Berbagi Ilmu LP3I dan Marissa Haque Ikang Fawzi di Bangka Belitung

Rata-rata Tamatan S1 Maunya Langsung Jadi Bos
Bangkapos.com - Sabtu, 15 Januari 2011 14:20 WIB
PEKANBARU, BANGKA POS.com - 
Artis kawakan Marissa Haque mengatakan, pendidikan ibarat peluru yang mampu menuju bidikan, yaitu masa depan. Namun, sayangnya, pendidikan yang dihasilkan, terutama lulusan S1, belum siap masuk dunia kerja. Pasalnya, lulusan ini maunya jadi bos, terlalu percaya diri (pede) sehingga level menengah kosong. "Kekosongan di level ini sangat banyak, dan itu menjadi peluang untuk diisi oleh lulusan siap pakai," kata Marissa Haque di depan mahasiswa LP3I Pekanbaru, Sabtu (15/1/2010). Lulusan siap pakai itu lebih banyak dihasilkan oleh lembaga pendidikan seperti LP3I. "Tadi saat wisuda LP3I, ternyata 80 persen lulus kerja, kerja. Lalu mereka sekolah lagi, bersaing S1 lainnya, unggul dibandingkan lainnya," kata Duta LP3I ini. Pas kerja, kata Marissa, saat pimpinan bertanya mengenai suatu hal, lalu diminta solusi permasalahan, tamatan LP3I mampu memberikan jawaban dibandingkan lulusan S1 lainnya. Marissa juga menambahkan, pemimpin masa depan, harus melalui proses, bukan ijazah palsu serta dibentuk dari lingkungannya. "Kalau mau bertahan harus berubah, bertahan seperti berlian, walau kecil tapi outputnya luar biasa kontribusinya," pungkas Marissa. (tribunnews.com/fakhrrurodzi)

Sumber: http://bangka.tribunnews.com/2011/01/15/rata-rata-tamatan-s1-maunya-langsung-jadi-bos/

Upaya Membangun BMT di Bangka Mencontoh Yogyakarta

BMT Bermasalah di DIY Capai 10 Persen

Jumat, 19 Agustus 2011 08:06 WIB
REPUBLIKA.CO.ID,
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/syariah/keuangan/11/08/19/lq5gx4-bmt-bermasalah-di-diy-capai-10-persen

YOGYAKARTA - BMT yang bermasalah di DIY sekitar 10 persen dari jumlah BMT yang ada , tetapi ini cukup mencoreng lembaga BMT karena nilai rupiah dari kerugian masyarakat cukup besar . Dari BMT besar yang bermasalah  yang dilaporkan ke LOS DIY selama periode September 2010-Agustus 2011  jumlah kerugian masyarakat mencapai Rp 140 miliar.

Hal itu dikemukakan Ketua LOS (Lembaga Ombudsman Swasta) DIY  Ananta Heri Pramono pada wartawan di sela-sela acara Buka Bersama dan Diskusi Publik LOS DIY dengan tema BMT dalam Membangun Ekonomi Masyarakat, di Kelapa Gading Resto Yogyakarta, Kamis petang (18/8).

BMT yang bermasalah tersebut antara lain: BMT Amratani dengan kerugian masyarakat Rp 32 miliar, BMT Isra dengan kerugian masyarakat Rp 51 miliar, BMT Hilal dengan kerugian masyarakat Rp 22 miliar. Tentu saja jumlah anggota BMT yang dirugian mencapai ribuan orang.

Menurut Heri, kasus ini menjadi menonjol dan mencuat ke masyarakat karena semua dana tersebut tidak bisa ditarik, sehingga dana masyarakat tersebut sudah hilang. Dari enam  BMT bermasalah yang menonjol, lima BMT sudah masuk ke Polda karena ada unsur penipuan serta penggelapan. Tiga kasus diantaranya sudah vonis. BMT yang bermasalah dan tidak berbadan hukum  koperasi sejak awal memang sudah mempunyai maksud jelek. BMT dijadikan kedok untuk menghimpun dana masyarakat.

Menurut Heri, modus dari BMT yang bermasalah salah satunya  berani memberikan bagi hasil yang tinggi dan tidak rasional. Bagi hasilnya melebihi bunga lembaga keuangan pada umumnya yakni  mencapai 17-20 persen per tahun. Hal itu juga diakui Ketua Pusat Koperasi Syariah (Puskopsyar) DIY Mursida Rambe yakni mereka memberikan bagi hasil mencapai lebih dari satu persen per bulan,''ungkap Mursida yang juga Direktur BMT  Beringharjo ini. .

Karena itu dia menghimbau kepada masyarakat agar  jangan terbuai dengan BMT yang memberikan bagi hasil yang tinggi, karena hal itu justru tidak syar'i. ''Sejak tahun 2008 kami sudah mengingatkan kepada BMT yang bermasalah supaya tidak menggunakan nama BMT karena sudah ada indikasi tidak wajar.

Padahal menurut dia, bagi hasil yang wajar bagi BMT rata-rata nominalnya tidak lebih dari satu persen per bulan, sehingga dalam satu tahun tidak lebih dari 12 persen. Karena itu agar  tidak terjadi keresahan di masyarakat akibat adanya BMT yang bermasalah, maka da berupaya memperkuat lembaga BMT di DIY. ''Kami melakukan konsolidasi  di tingkat internal, pengelola serta pengurus Puskopsyar dengan melakukan pelatihan agar mereka melakukan fungsi dan tanggungjawab,''ungkap dia.

Selanjutnya Heri mengatakan LOS DIY mengusulkan kepada Gubernur untuk membuat aturan tentang BMT atau Koperasi Jasa Keuangan Syariah dan di dalamnya termasuk regulasi tentang pengawasan BMT. ''Kami juga mengusulkan kepada dinas yang membidangi koperasi supaya orang yang menjadi persyaratan pendirian BMT salah satunya adalah pengurus BMT harus sudah mengikuti pelatihan ke-BMT-an dan yang dewan pengurus harus disetujui MUI (Majelis Ulama Indonesia),''kata dia.

Dalam diskusi ini hadir juga Duta BMT Marissa Haque  Fawzi usai  menyelesaikan ujian S2 (MBA nya) di Magister Manajemen UGM yang thesis nya juga tentang BMT. Dia mengaku bersyukur dan berterima kasih kepada BMT dan Yogyakarta karena hasil ujiannya mendapat nilai "A" bulat. Untuk thesis nya itu dia melakukan penelitian di BMT Beringharjo di Yogyakarta selama enam bulan.
Redaktur: taufik rachman
Reporter: neni ridarineni

Pendidikan Tidak Langsung Ustad Terbaik : Komunikasi Dakwah Strategik

Pendidikan dilembaga ini dapat diikutisiapa saja.


Oleh Damanhuri Zuhri

Haji Soegeng Santoso, SH, MH, (68), tak pernah menyangka bila ia tampil sebagai penceramah di banyak tempat. Padahal, ketika beribadah haji bersama sang istri pada 1989 atau pada usia 46 tahun, ia belum menjalankan shalat secara rutin. Kala itu, lelaki yang dikenal sebagai notaris ini pergi ke Tanah Suci bermodal nekat.

Ia belum banyak mengerti tentang kewajiban agama. Tapi, lambat laun ia berubah. Ia bersyukur dan merasa beruntung bisa masuk komunitas kader Pendidikan Mu-balligh Al-Azhar (PMA). "Sehingga secara bertahap saya bisa memperdalam wawasan agama Islam," kata Soegeng di Jakarta, Rabu (22/6).

Ia teringat pertama kali men-daftar sebagai peserta PMA. Ia ditanya salah seorang pengurus bisa atau tidak baca Alquran. Mereka yang tak mampu membaca Alquran tidak bisa masuk. Tapi, ia bersikeras. "Masak ada yang ingin belajar kok dilarang?" Akhirnya Soegeng diterima di PMA angkatan ke-27.

Menurut dia, di sana ia menambah ilmu tentang Islam sekalian belajar ceramah. Ia belajar dari dosen-dosen yang pakar di bidangnya. Sebut saja, misalnya, Dr Lutfi Fathullah MA, pakar hadis dan direktur Pusat Kajian Hadis Jakarta. Ilmu diperoleh juga dari DR Aminullah MA, KH Wahfiudin, dan KH Dr Hamdan Rasyid.

Dr H Shabahussurur MA menjadi salah satu dosen di sana. Selain itu, ada Ustaz H Sunandar Ibnu Nur MA yang ahli di bidang pidato. Dari sini, ujar Soegeng, Ustaz Sunandar sering mengajaknya menjadi pengisi acara Hikmah Pagi TVRI atau berceramah di beberapa tempat dalam rangka peringatan hari besar Islam.

Hal yang lebih membahagiakan dirinya, papar Soegeng, berkat hidayah Allah SWT ia kini tak hanya mampu mengamalkan ajaran Ustaz Muhammad Arifin Ilham, pimpinan Majelis Zikir Az Zikra, yang sering disampaikan Ustaz Sunandar selama belajar di PMA, yaitu istighiar, tak pernah putus wudhu, membaca dan memahami Alquran.

Ajaran lainnya adalah sedekah setiap hari, shalat tahajud setiap malam, dan shalat dhuha. "Al-
Pendidikan Muballigh Al-Azhar (PMA)

Menempa Calon Mubalighamdulillah, saya pun sering diundang ceramah ke berbagai daerah di Indonesia," katanya. Ia mengatakan, niatnya adalah mengamalkan ilmu yang diperoleh walaupun sedikit agar ada manfaat bagi umat dan berharap husnul khatimah.

Ia mengungkapkan, kalau diminta ceramah, ia niatkan semata-mata untuk ibadah. Ia tak berharap atau menerima angpau. Sebaliknya, ia malah senang berdakwah sambil beramal.

Ketua Umum Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Dr Shabahussurur, mengatakan PMA didirikan pada 28 Oktober 1977 oleh Buya Hamka.

Ada tiga tingkat pendidikan PMA, yaitu tingkat dasar, tingkat lanjutan, dan tingkat kajian khusus. Lama pendidikan masing-masing tingkatan dua semester. Materi yang diajarkan adalah ilmu-ilmu keislaman, seperti akidah, tafsir, hadis, fikih, ushul fikih, akhlak, bahasa Arab, ilmu dakwah, metode dakwah dan psikologi dakwah, serta retorika.

Peserta pendidikan diajari pidato dan berceramah dengan praktik langsung ke masyarakat. Selama ini, ada 14 dosen yang aktif mengajar di PMA. Jumlah peserta setiap angka tarinya lebih dari 100 orang. Program ini dapat diikuti siapa saja, tidak pandang berapa usianya.

Mereka yang berminat mendalami ilmu agama, meneruskan risalah Islam, serta ingin mewujudkan rahmah (kasih sayang) bagi masyarakat, bisa mendaftar sebagai peserta PMA. Kini, lulusannya lebih dari 3.500 orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Lulusan PMA diproyek-sikan sebagai penggerak dakwah.

Mereka dapat melakukannya melalui masjid, yayasan, lembaga Islam, bahkan dalam berbagai kesempatan menyampaikan pesan Islam di mana saja, di rumah, perkantoran, pasar, dan masyarakat secara luas. "Kami mendidik mereka menjadi dai dan mubalig bagi dirinya, keluarga, dan masyarakat," kata Shabahussurur.

Wisuda peserta didik di PMA berlangsung setiap tahun. Tahun ini, rencananya berlangsung pada 25 Juni 2011 di Aula Buya Hamka, Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan.

Ustaz Sunandar Ibnu Nur MA yang memberi materi public speaking, retorika, dan praktik pidato mengaku awalnya direkrut sebagai pengajar PMA menggantikan dosen materi itu yang meninggal dunia. Didi Yuda Prawira. Masyarakat, kata dia, mengenal almarhum sebagai penyiar seniordi TVRI.

Tugas ini, jelas dia, tidak mudah apalagi menggantikan orang yang sudah senior dan profesional. Tapi, ia bersyukur pengalaman mengajar di kampus sejak 1990 dan mengisi acara dakwah di TPI, ANTV, RCTI, dan TVRI membuatnya percaya diri mengajarkan materi yang diamanatkan kepadanya.

Peserta PMA yang pernah dib-inanya adalah Astri Ivo, Pipit istri penceramah Ustaz Jefry al-Buchori (Uje), dan Soegeng Santosa yang tergabung dalam angkatan 27 hingga kini sudah angkatan 34. Masih banyak lagi lainnya yang setelah selesai kuliah di PMA menjadi mubalig dan muba-lighah di masyarakat.

Ia mengatakan, PMA ini cukup fenomenal dan bertahan hingga 34 tahun lamanya tentu bukan perkara mudah. Ada begitu banyak lembaga pendidikan kadermubalig yang dulu eksis namun kini sudah terkikis oleh geliat laju zaman. Ia melihat ada beberapa faktor yang membuat PMA ini bisa tetap eksis.

Ia menuturkan, PMA berada di lokasi strategis, yaitu di lingkungan Masjid Agung dan Universitas Al-Azhar. Apalagi, pesertanya sebagian besar para karyawan, pengusaha, dan berbagai profesi yang bekerja dan tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Dosen yang mengajar adalah para profesional dan ahli di bidangnya.

Manajemen yang rapi dan sikap yang ramah, menopang keberlangsungan PMA. Ustaz Sunandar mengatakan, pengurus PMA memperlakukan peserta layaknya kawan, bahkan seperti keluarga. Lingkungan semacam ini membuat peserta betah dan mau bertahan sejak awal kuliah hingga diwisuda.
d ferry Wslhandl

Wah! Bisa Mencontoh KOMPOL dari Angelina Sondakh

Pendidikan dilembaga ini dapat diikutisiapa saja.


Oleh Damanhuri Zuhri

Haji Soegeng Santoso, SH, MH, (68), tak pernah menyangka bila ia tampil sebagai penceramah di banyak tempat. Padahal, ketika beribadah haji bersama sang istri pada 1989 atau pada usia 46 tahun, ia belum menjalankan shalat secara rutin. Kala itu, lelaki yang dikenal sebagai notaris ini pergi ke Tanah Suci bermodal nekat.

Ia belum banyak mengerti tentang kewajiban agama. Tapi, lambat laun ia berubah. Ia bersyukur dan merasa beruntung bisa masuk komunitas kader Pendidikan Mu-balligh Al-Azhar (PMA). "Sehingga secara bertahap saya bisa memperdalam wawasan agama Islam," kata Soegeng di Jakarta, Rabu (22/6).

Ia teringat pertama kali men-daftar sebagai peserta PMA. Ia ditanya salah seorang pengurus bisa atau tidak baca Alquran. Mereka yang tak mampu membaca Alquran tidak bisa masuk. Tapi, ia bersikeras. "Masak ada yang ingin belajar kok dilarang?" Akhirnya Soegeng diterima di PMA angkatan ke-27.

Menurut dia, di sana ia menambah ilmu tentang Islam sekalian belajar ceramah. Ia belajar dari dosen-dosen yang pakar di bidangnya. Sebut saja, misalnya, Dr Lutfi Fathullah MA, pakar hadis dan direktur Pusat Kajian Hadis Jakarta. Ilmu diperoleh juga dari DR Aminullah MA, KH Wahfiudin, dan KH Dr Hamdan Rasyid.

Dr H Shabahussurur MA menjadi salah satu dosen di sana. Selain itu, ada Ustaz H Sunandar Ibnu Nur MA yang ahli di bidang pidato. Dari sini, ujar Soegeng, Ustaz Sunandar sering mengajaknya menjadi pengisi acara Hikmah Pagi TVRI atau berceramah di beberapa tempat dalam rangka peringatan hari besar Islam.

Hal yang lebih membahagiakan dirinya, papar Soegeng, berkat hidayah Allah SWT ia kini tak hanya mampu mengamalkan ajaran Ustaz Muhammad Arifin Ilham, pimpinan Majelis Zikir Az Zikra, yang sering disampaikan Ustaz Sunandar selama belajar di PMA, yaitu istighiar, tak pernah putus wudhu, membaca dan memahami Alquran.

Ajaran lainnya adalah sedekah setiap hari, shalat tahajud setiap malam, dan shalat dhuha. "Al-
Pendidikan Muballigh Al-Azhar (PMA)

Menempa Calon Mubalighamdulillah, saya pun sering diundang ceramah ke berbagai daerah di Indonesia," katanya. Ia mengatakan, niatnya adalah mengamalkan ilmu yang diperoleh walaupun sedikit agar ada manfaat bagi umat dan berharap husnul khatimah.

Ia mengungkapkan, kalau diminta ceramah, ia niatkan semata-mata untuk ibadah. Ia tak berharap atau menerima angpau. Sebaliknya, ia malah senang berdakwah sambil beramal.

Ketua Umum Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Dr Shabahussurur, mengatakan PMA didirikan pada 28 Oktober 1977 oleh Buya Hamka.

Ada tiga tingkat pendidikan PMA, yaitu tingkat dasar, tingkat lanjutan, dan tingkat kajian khusus. Lama pendidikan masing-masing tingkatan dua semester. Materi yang diajarkan adalah ilmu-ilmu keislaman, seperti akidah, tafsir, hadis, fikih, ushul fikih, akhlak, bahasa Arab, ilmu dakwah, metode dakwah dan psikologi dakwah, serta retorika.

Peserta pendidikan diajari pidato dan berceramah dengan praktik langsung ke masyarakat. Selama ini, ada 14 dosen yang aktif mengajar di PMA. Jumlah peserta setiap angka tarinya lebih dari 100 orang. Program ini dapat diikuti siapa saja, tidak pandang berapa usianya.

Mereka yang berminat mendalami ilmu agama, meneruskan risalah Islam, serta ingin mewujudkan rahmah (kasih sayang) bagi masyarakat, bisa mendaftar sebagai peserta PMA. Kini, lulusannya lebih dari 3.500 orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Lulusan PMA diproyek-sikan sebagai penggerak dakwah.

Mereka dapat melakukannya melalui masjid, yayasan, lembaga Islam, bahkan dalam berbagai kesempatan menyampaikan pesan Islam di mana saja, di rumah, perkantoran, pasar, dan masyarakat secara luas. "Kami mendidik mereka menjadi dai dan mubalig bagi dirinya, keluarga, dan masyarakat," kata Shabahussurur.

Wisuda peserta didik di PMA berlangsung setiap tahun. Tahun ini, rencananya berlangsung pada 25 Juni 2011 di Aula Buya Hamka, Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan.

Ustaz Sunandar Ibnu Nur MA yang memberi materi public speaking, retorika, dan praktik pidato mengaku awalnya direkrut sebagai pengajar PMA menggantikan dosen materi itu yang meninggal dunia. Didi Yuda Prawira. Masyarakat, kata dia, mengenal almarhum sebagai penyiar seniordi TVRI.

Tugas ini, jelas dia, tidak mudah apalagi menggantikan orang yang sudah senior dan profesional. Tapi, ia bersyukur pengalaman mengajar di kampus sejak 1990 dan mengisi acara dakwah di TPI, ANTV, RCTI, dan TVRI membuatnya percaya diri mengajarkan materi yang diamanatkan kepadanya.

Peserta PMA yang pernah dib-inanya adalah Astri Ivo, Pipit istri penceramah Ustaz Jefry al-Buchori (Uje), dan Soegeng Santosa yang tergabung dalam angkatan 27 hingga kini sudah angkatan 34. Masih banyak lagi lainnya yang setelah selesai kuliah di PMA menjadi mubalig dan muba-lighah di masyarakat.

Ia mengatakan, PMA ini cukup fenomenal dan bertahan hingga 34 tahun lamanya tentu bukan perkara mudah. Ada begitu banyak lembaga pendidikan kadermubalig yang dulu eksis namun kini sudah terkikis oleh geliat laju zaman. Ia melihat ada beberapa faktor yang membuat PMA ini bisa tetap eksis.

Ia menuturkan, PMA berada di lokasi strategis, yaitu di lingkungan Masjid Agung dan Universitas Al-Azhar. Apalagi, pesertanya sebagian besar para karyawan, pengusaha, dan berbagai profesi yang bekerja dan tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Dosen yang mengajar adalah para profesional dan ahli di bidangnya.

Manajemen yang rapi dan sikap yang ramah, menopang keberlangsungan PMA. Ustaz Sunandar mengatakan, pengurus PMA memperlakukan peserta layaknya kawan, bahkan seperti keluarga. Lingkungan semacam ini membuat peserta betah dan mau bertahan sejak awal kuliah hingga diwisuda.
d ferry Wslhandl